Berita & Publikasi

Catatan dari MSC Developing World Fisheries Conference 2014

Oleh: Margareth Meutia, Tim Seafood Savers -  


© WWF-Indonesia / Margareth Meutia
© WWF-Indonesia / Margareth Meutia

Untuk kali kedua, Marine Stewardship Council (MSC) mengadakan konferensi untuk perikanan negara berkembang. Setelah sebelumnya diadakan di Chile pada 2012, pertemuan kali ini diadakan di Bali pada 14 – 16 April 2014 dan dihadiri 150 peserta mayoritas dari Afrika, Amerika Selatan dan Asia mewakili pemerintahan, perusahaan, LSM, asosiasi perusahaan perikanan, akademisi, dan badan sertifikasi.

Negara berkembang memang memegang peranan penting dalam keberlanjutan perikanan dunia mengingat 60% produk perikanan berasal dari negara-negara ini. Indonesia sendiri menyumbang sekitar 10% dari total jumlah makanan laut yang dikonsumsi dunia. Sayangnya, dari 300 perikanan dunia yang berlabel MSC hingga saat ini, hanya 8% yang berasal dari negara berkembang.

Kesiapan negara berkembang termasuk Indonesia dalam penerapan standar MSC dan pembelajaran dari sektor perikanan di beberapa negara menjadi inti dari pertemuan ini. Dalam pembukaannya Dr. Saut Hutagalung DirJen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan menegaskan perolehan sertifikat bukan lah tujuan akhir, karena muara dari proses sertifikasi adalah keberlanjutan sumber daya alam. Di Indonesia setelah awalnya pada 2008 MSC menuai penolakan dari pelaku industri, kini makin banyak perusahaan terlibat dalam program perbaikan perikanan (Fisheries Improvement Program / FIP) untuk memperoleh sertifikat MSC, khususnya untuk komoditas Tuna, Kakap, Kerapu, dan Rajungan.

© WWF-Indonesia / Margareth Meutia
© WWF-Indonesia / Margareth Meutia

Lebih lanjut Dr. Saut juga mengangkat permasalahan pelaku perikanan dari sisi kapasitas dan biaya untuk memenuhi standar keberlanjutan MSC.Karena itu pemerintah mendorong keterlibatan MSC, WWF, dan LSM lainnya untuk berperan serta memperlancar proses menuju perikanan yang berkelanjutan.

WWF-Indonesia menanggapi hal ini dengan peningkatan kapasitas sejumlah pakar perikanan untuk menjadi auditor lokal MSC. Jasa auditor adalah salah satu komponen biaya terbesar sertifikasi karena umumnya auditor terakreditasi berasal dari luar Indonesia. Dengan dukungan MSC, WWF-Indonesia menjadikan konferensi ini sebagai kick off proses tersebut. Dari sisi bisnis perikanan tangkap, WWF-Indonesia melakukan program perbaikan Tuna, komoditas andalan Indonesia yang bernilai ekspor Rp. 8,5 triliun pada 2011 (KKP, 2012).

© WWF-Indonesia / Margareth Meutia
© WWF-Indonesia / Margareth Meutia

Hasil ulasan terhadap program perbaikan tuna dalam kurun 2010-2013 menunjukkan perkembangan positif. Kegiatan pra-penilaian yang menghasilkan Rencana Aksi Perbaikan Tuna mensyaratkan 50 poin perbaikan, mencakup kepastian tangkapan tidak melebihi batas kelangsungan populasi (population viability), pengelolaan perikanan berbasis ekosistem dan penguatan tata kelola perikanan. Hingga saat ini 19 poin perbaikan telah berhasil dilakukan, namun salah satu poin krusial mengenai pengaturan pemanfaatan (harvest control rules) belum berhasil dicapai.

Untuk merampungkan proses perbaikan ini, dukungan kuat pemerintah sangat dibutuhkan. Secara khusus, poin mengenai pengaturan pemanfaatan perlu menjadi bagian dari Rancangan Pengelolaan Perikanan Tuna yang tengah disusun oleh KKP — ditargetkan selesai Juni ini. Tanpa adanya pengaturan pemanfaatan yang tepat, perbaikan akan sulit dicapai.

Pentingnya keterlibatan para pihak, termasuk LSM dan program kemitraan bisnis seperti Seafood Savers dalam perbaikan perikanan menjadi benang merah presentasi negara berkembang lainnya. MSC sendiri berusaha mengakomodir tantangan yang ada melalui sejumlah instrumen khusus seperti metode penilaian Risk Based Framework (RBF). Metode ini dapat diterapkan di Indonesia untuk menilai perikanan yang tidak didukung dengan pendataan yang cukup dan valid. Studi sosio-ekonomi mengenai manfaat penerapan praktik perikanan berkelanjutan berstandar MSC juga perlu dilakukan untuk menghapus keengganan industri perikanan dalam melakukan perbaikan.

Dengan komitmen pemerintah, program MSC untuk negara berkembang, serta pendampingan berbagai pihak, pelaku perikanan Indonesia harus mampu bangkit untuk menjawab tantangan keberlanjutan perikanan.

Berita Terakhir