Berita & Publikasi

Memperkenalkan Sertifikasi ASC dan BMP Udang Windu kepada Petambak Pinrang

Oleh: Zulkarnain(Fasilitator Lokal AIP Budidaya Udang – Pinrang), Idham Malik(Aquaculture Officer, WWF-Indonesia) -  


Pada 20 – 21 Mei 2017, diselenggarakan sosialisasi Aquaculture Stewardship Council (ASC) dan Better Management Practice (BMP) Budidaya Udang Windu. Sosialisasi merupakan kolaborasi antara WWF-ID dan PT. Bogatama Marinusa (Bomar), perusahaan anggota Seafood Savers kepada pekerja tambak H. Tantang yang merupakan supplier utama PT. Bomar. Bertempat di kediaman H. Tantang, Kelurahan Pallameang, Kecamatan Mattirosompe, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, peserta berjumlah lima belas orang, tiga belas petambak dan dua penyuluh perikanan setempat.

4. Foto bersama peserta Pelatihan ASC-BMP Udang Windu-foto Nizar Fahrezi
Foto bersama peserta Pelatihan ASC-BMP Udang Windu_Nizar Fahrezi/WWF-ID

Sosialisasi ini merupakan langkah awal pendampingan kepada pembudidaya yang mengelola lahan tambak sebanyak sembilan petak dengan luas total 63 hektar, menuju budidaya udang windu yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, dengan mengikuti standar ASC Shrimp dan BMP Udang Windu. ASC Shrimp adalah standar budidaya udang skala internasional yang didorong oleh mekanisme pasar. BMP yang digunakan merupakan panduan budidaya udang skala kecil, yang diproduksi oleh WWF-Indonesia dengan mengambil pelajaran dari praktik-praktik dampingan WWF-ID serta saran dari berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan udang windu.

Pada hari pertama, 20 Mei, Muhammad Yusuf (Fisheries Science WWF-ID) bersama Idham Malik (Aquaculture Staff) menjelaskan secara bertahap tentang ASC Shrimp. Penjelasan dimulai dari dasar pemikiran dan sejarah, dilanjutkan dengan penjelasan secara singkat tujuh prinsip dalam ASC Shrimp yang memuat; aspek legalitas tambak, dampak budidaya terhadap lingkungan, dampak budidaya terhadap kehidupan sosial masyarakat sekitar, praktik budidaya yang memperhatikan nasib pekerja, praktik budidaya yang memperhatikan hak-hak hidup udang dengan pencegahan dan penanganan penyakit, praktik budidaya yang menjaga kelangsungan hidup stok udang di alam, serta praktik budidaya dengan sumberdaya pangan dan energi yang efisien dan bertanggungjawab.

Selain itu, dijelaskan pula kondisi aktual kawasan tambak H. Tantang berdasarkan standar ASC Shrimp. Secara umum budidaya udang dilakukan dengan metode tradisional dengan padat tebar rendah dan teknologi sederhana. Namun, untuk memperoleh sertifikat ASC Shrimp, terdapat beberapa hal yang harus dipenuhi oleh PT. Bomar bersama H. Tantang, yaitu ketersediaan laporan BEIA (Biodiversity Ecosistem Impact Assessment) untuk melihat dampak budidaya terhadap lingkungan, ketersediaan laporan pSIA (Partisipatory Sosial Impact Assessment) untuk melihat dampak tambak terhadap masyarakat sekitar, ketersediaan papan informasi pada public, ketersediaan Standar Operasional Program (SOP) budidaya, pencatatan kualitas air, dan ketersediaan pencatatan aktivitas budidaya dan dokumen benur.

3. Perkenalan alat kualitas air-foto Nizar Fahrezi
Perkenalan alat kualitas air_Nizar Fahrezi/WWF-ID

Pada hari kedua, 21 Mei, Muhammad Yusuf mengajak para pembudidaya untuk merefleksikan praktik budidaya udang windu yang telah dilakukan selama ini. Misalnya, saat ini para pembudidaya menerapkan sistem double atau susul dalam penebaran benur dan tidak dilakukan panen total. Hal ini dilakukan karena luasnya lahan budidaya, luas tambak antara 3 – 12 hektar, yang menyebabkan sulitnya pembudidaya melakukan pengeluaran air dan pengisian air secara total. Menurut M. Yusuf, praktik tersebut dapat menurunkan tingkat kelulusan hidup udang (Survival Rate), sebab terjadi variasi ukuran udang dalam kolom air. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya kanibalisme atau pemangsaan udang kecil oleh udang yang berukuran lebih besar. Praktik lain yang harus diperhatikan adalah penggunaan pestisida kimia untuk pemberantasan hama. Pestisida memang punya dampak baik bagi produktivitas udang dalam jangka pendek, namun dapat berdampak buruk untuk jangka panjang karena akan menurunkan produktivitas lahan.

Di akhir kegiatan petambak dilakukan pengenalan penggunaan alat pengukur kualitas air, yaitu DO Meter untuk mengukur kadar oksigen dalam air, Hand Refraktometer untuk mengukur kadar garam dalam air, pH meter untuk mengukur kadar asam-basa dalam air dan Soil Tester untuk mengukur kadar asam-basa dalam tanah. Harapannya, petambak dapat mengukur kondisi air dan tanah, yang baik bagi pertumbuhan udang. Dengan adanya pelatihan mengenai ASC dan BMP ini, diharapkan pembudidaya udang supplier PT Bomar memahami penjagaan lingkungan hidup, sekaligus dapat meningkatkan produktivitas udang ditambaknya.

 

Berita Terakhir