Berita & Publikasi

Produk Udang Vaname Indonesia Raih Sertifikasi Ekolabel

Oleh: Tim Seafood Savers dan Tim WWF-Indonesia -  


Jakarta, Februari 2019WWF-Indonesia memberikan apresiasi tinggi kepada PT Mega Marine Pride yang berhasil meraih sertifikasi Aquaculture Stewardship Council (ASC) udang vaname (Litopenaeus vannamei) bulan Januari 2019. Produsen udang dampingan WWF-Indonesia ini meraih sertifikasi ASC untuk 68 petak tambak intensif seluas 23 ha di Kabupaten Jember, Jawa Timur milik pemasoknya, PT Delta Guna Sukses.

Hasil panen udang vanamei © Wahju Subachri, WWF-IDIndonesia merupakan negara produsen ikan budidaya terbesar ke-3 di Asia setelah China dan India. Praktik budidaya telah lama menjadi sorotan semenjak aktivitasnya potensial berdampak buruk bagi lingkungan. Sebagai solusi, sejak tahun 2009 WWF-Indonesia mengembangkan platform Seafood Savers untuk mendampingi perusahaan perikanan agar bisa mencapai standar keberlanjutan ASC untuk budidaya dan Marine Stewardship Council (MSC) untuk perikanan tangkap. Kedua sertifikasi ini mengacu pada Kode Perilaku Perikanan yang Bertanggung Jawab (CCRC) versi Lembaga Pangan PBB.

Sebagai salah satu anggota Seafood Savers, PT Mega Marine Pride, bergabung dalam skema program perbaikan perikanan (Aquaculture Improvement Program/AIP) WWF-Indonesia pada Desember 2017. Selama proses AIP, tim WWF-Indonesia bersinergi dengan Direktorat Jenderal Perikanan Budi daya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan RI memberikan pendampingan aktivitas perbaikan perikanan komoditas udang yang merujuk pada prinsip keberlanjutan ASC.

“Pencapaian standar ASC adalah bentuk komitmen kami sebagai pebisnis untuk mewujudkan budidaya udang vaname yang dapat menjaga keseimbangan ekosistem yang berkelanjutan,” ucap Junita Dwi Lia, Direktur Pengawasan & Pengendalian Kualitas PT Mega Marine Pride. “Kami mengapresiasi dukungan dari WWF-Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, dan PT Delta Guna Sukses, sehingga sertifikat ASC dapat diraih. Kami berkomitmen untuk menjaga konsistensi dan memperluas cakupan sertifikasi ASC agar kami dapat meningkatkan mutu secara berkelanjutan sesuai visi dan misi perusahaan,” tambah Junita.

Pemenuhan prinsip dilakukan demi meminimalkan dampak budidaya terhadap lingkungan melalui aktivitas rehabilitasi habitat, penggunaan sumber daya yang efisien, penggunaan pakan yang bertanggung jawab, penanganan limbah dan pemeliharaan kesehatan udang. Selain dampak terhadap lingkungan, AIP perusahaan juga bertujuan mengelola dampak sosial terkait pekerja dan masyarakat.

Selama Desember 2017 hingga Januari 2019, tercatat PT Delta Guna Sukses telah membuat kebijakan internal yang sesuai Prosedur Operasional Standar (SOP), membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengurangi dampak pencemaran air limbah, dan mengadakan kegiatan penanaman 2.700 pohon bakau dan 1.800 pohon jaran sebagai upaya penghijauan pantai. Seluruh aktivitas perbaikan dilakukan dengan dukungan dan keterlibatan Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Selama tiga tahun ini, selain PT Mega Marine Pride, ada dua perusahaan dampingan WWF-Indonesia yang telah berhasil memenuhi prinsip keberlanjutan untuk praktik budidaya ASC. Keduanya adalah PT Mustika Minanusa Aurora yang mendapatkan sertifikasi ASC Udang Windu untuk tambak seluas 100 ha dengan metode tradisional di Kalimantan Utara pada Agustus 2016 dan, PT Bumi Menara Internusa yang meraih ASC Udang Vaname untuk tambak seluas 9 ha dengan metode intensif di Jawa Timur. Ke depan akan semakin banyak perusahaan dampingan yang mengikuti proses untuk memenuhi prinsip keberlanjutan.

“Perolehan sertifikasi oleh ketiga perusahaan ini menunjukkan geliat WWF-Indonesia, DJPB KKP RI, dan pelaku bisnis perikanan budidaya di Indonesia untuk mempraktikkan bisnis perikanan yang sesuai kaidah keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan tambak,” ucap Dr. Imam Musthofa, Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF-Indonesia.

“Melalui pemenuhan sertifikasi ekolabel, pengusaha perikanan berperan besar untuk menjaga masa depan sumber daya perikanan dan meningkatkan daya saing produk ikan Indonesia di pasar global. Meski tidak mudah meraihnya, kami optimis akan makin banyak perusahaan produsen makanan bahari Indonesia yang berusaha dan berhasil memenuhi prinsip keberlanjutan,” imbuhnya.

Sepatutnya tekad perusahaan dapat difasilitasi secara menyeluruh oleh pemangku kepentingan yang terkait seperti pemerintah pusat dan daerah, LSM, dan akademisi, sehingga semakin banyak pelaku usaha dapat memenuhi prinsip keberlanjutan. Dengan begitu, sinergi ini dapat mempercepat perwujudan perikanan berkelanjutan di Indonesia.

Catatan Editor:

  • Seafood Savers adalah landasan business-to-business yang diinisiasi WWF-Indonesia untuk mengimplementasi upaya perbaikan perikanan di Indonesia yang mengacu pada standar ekolabel MSC dan ASC. Per Februari 2019, 22 perusahaan perikanan telah bergabung sebagai anggota Seafood Savers. Informasi lebih lanjut kunjungi www.seafoodsavers.org.
  • Aquaculture Sewardship Council (ASC) adalah organisasi non-profit internasional yang mengembangkan skema sertifikasi pihak ketiga untuk perikanan budidaya yang berkelanjutan. ASC mempunyai misi untuk mewujudkan praktik perikanan budi daya yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Informasi lengkap lebih lanjut kunjungi www.asc-aqua.org.
  • Aquaculture Improvement Program (AIP) adalah proses perbaikan yang dilalui sebuah unit perikanan budi daya untuk memenuhi standar keberlanjutan yang ditetapkan dalam sertifikasi ASC.
  • Foto-foto mengenai proses budidaya tambak yang telah meraih ASC dapat dilihat di sini.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

  • Nur Ahyani, Aquaculture Coordinator, WWF Indonesia
    Email: nurahyani@wwf.id, Mobile: +62812 2781 1108
  • Febrina Berlianti, Seafood Market Innovation Coordinator, WWF-Indonesia
    Email: fberlianti@wwf.id, Mobile: +62852 8222 0289
  • Nisa Syahidah, Marine & Fisheries Communication Specialist, WWF-Indonesia
    Email: sbscomms@wwf.id, Mobile: +62857 8101 7659

Tentang WWF-Indonesia

WWF-Indonesia adalah organisasi nasional yang mandiri dan merupakan bagian dari jaringan global WWF. Mulai bekerja di Indonesia pada tahun 1962 dengan penelitian badak jawa di Ujung Kulon, WWF-Indonesia saat ini bergiat di 32 wilayah kerja lapangan di 17 provinsi mulai dari Aceh hingga Papua. Didukung oleh sekitar 500 staf, WWF-Indonesia bekerja sama dengan pemerintah, masyarakat lokal, swasta, LSM, masyarakat madani dan publik luas. Sejak 2006 hingga 2013, WWF-Indonesia didukung oleh sekitar 64.000 suporter dalam negeri. Kunjungi www.wwf.or.id

Berita Terakhir