Berita & Publikasi

Seafood Savers Dampingi Perusahaan Ikan Tuna PT. Arta Mina Tama Dapatkan Sertifikasi Ekolabel Perikanan Tangkap MSC

Oleh: Margareth Meutia -  


© WWF-Indonesia
© WWF-Indonesia

Jakarta, 20/05/11 – WWF, sebuah organisasi konservasi global, menandatangani Nota Kesepahaman dengan PT. Arta Mina Tama (PT.AMT), untuk bersama-sama mengupayakan perbaikan industri perikanan melalui praktik-praktik penangkapan dan pengolahan ikan yang lebih ramah lingkungan di bawah program kerja sama business-to-business, Seafood Savers.
Seafood Savers adalah sebuah kelompok dialog dan kerjasama korporasi yang diinisiasi oleh WWF-Indonesia sejak Oktober 2009, yang bertujuan untuk menguatkan dukungan dari sektor industri pada perbaikan pengelolaan perikanan laut di Indonesia. Seafood Savers mengacu pada sertifikasi perikanan ekolabel MSC (Marine Stewardship Council) untuk perikanan tangkap dan ASC (Aquaculture Stewardship Council) untuk perikanan budi daya dalam mendorongkan upaya perbaikan pengelolaan perikanan laut tersebut.

“Melalui Seafood Savers, WWF mendorongkan semakin banyak perusahaan perikanan mendapatkan sertifikasi MSC dan ASC. WWF yakin bahwa pemenuhan terhadap kedua standar tersebut mampu mendukung terwujudnya perbaikan kondisi perikanan di Indonesia.” ujar Dr. Efransjah, CEO WWF-Indonesia dalam sambutannya.

Untuk perikanan tangkap, penilaian dan standar MSC dibangun di atas 3 prinsip dasar, yaitu keberlanjutan populasi ikan di laut, dampak aktivitas penangkapan terhadap ekosistem dan manajemen perikanan. Sebuah usaha perikanan dikatakan berkelanjutan ketika aktivitas penangkapannya tidak membahayakan ketersediaan stok ikan di laut, memiliki dampak minimal terhadap ekosistem dan mengaplikasikan manajemen perikanan yang efektif dan dapat diandalkan.

Sebagai salah satu penghasil tuna terbesar di dunia, Indonesia kini tengah menghadapi tantangan besar. Sebagian besar spesies tuna mengalami penurunan stok atau jumlah populasi di alam. Sementara aktivitas penangkapannya yang banyak dimotori oleh armada longline menghasilkan dampak meningkatnya jumlah tangkapan sampingan (bycatch). Permasalahan ini masih ditambah dengan isu pengelolaan perikanan tuna di tingkat nasional yang belum dapat menjamin keberlangsungan spesies di alam. Kurangnya informasi mengenai data tangkapan serta musim dan lokasi dimana ikan memijah dan berada pada ukuran penting dalam siklus hidupnya belum teridentifikasi dengan baik, yang menyebabkan usaha perlindungan terhadap kelestarian sumberdaya ikan dan keberlanjutan industri perikanan menjadi penuh tantangan.

© WWF-Indonesia
© WWF-Indonesia

“Data-data tersebut kami butuhkan untuk menyusun rencana pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Saat ini WWF dengan melibatkan para pemangku kepentingan terkait, sedang menyusun sistem pengelolaan perikanan terpadu dengan menggunakan pendekatan berbasis ekosistem (Ecosystem Approach Fisheries Management/EAFM) yang kami percaya bisa menjamin pemanfaatan jangka panjang sekaligus perlindungan stok ikan di alam.” komentar Koordinator Perikanan Tangkap WWF-Indonesia, Abdullah Habibi.

“MSC adalah sesuatu yang relatif baru bagi kami namun setelah melalui prosesnya bersama program SEAFOOD SAVERS, kami menyadari bahwa hal ini adalah sesuatu yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan sumber daya ikan hingga masa mendatang.” komentar perwakilan PT. Arta Mina Tama, Gunawan selaku Pemilik sekaligus Direktur PT.Arta Mina Tama terhadap proses pencapaian sertifikasi MSC yang tengah dilalui saat ini.

Nota Kesepahaman yang ditandatangani kedua belah pihak menyepakati dua rekomendasi yang harus dipenuhi PT. Arta Mina Tama, yaitu; 1) memberi dukungan pada kegiatan pengidentifikasian musim dan lokasi pemijahan yang dilakukan pemerintah setempat, LSM atau universitas dan 2) mengembangkan sistem dan alat komunikasi sosialisasi untuk mensosialisasikan informasi dan edukasi mengenai praktik perikanan lestari dan menghindari penangkapan IUU kepada karyawan perusahaan.

Berita Terakhir