Berita & Publikasi

Seminar WWF dan UNIDO: Dorong Pengusaha Tingkatkan Daya Saing Rumput Laut Indonesia

Oleh: Usmawati Anggita Sakti(Seafood Savers Communication Assistant) -  


HNS_0702
WWF-Indonesia, UNIDO, MSC – ASC Seaweed Manager dan seluruh peserta seminar. ©WWF-Indonesia

agaimana cara memproduksi rumput laut yang bertanggung jawab? Apa saja kegiatan budi daya rumput laut yang termasuk dalam standar ramah lingkungan? WWF-Indonesia dan SMART-Fish UNIDO (United Nations Industrial development Organization) mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tsb dalam sebuah seminar.

Sebanyak 27 peserta yang berasal dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, kalangan pengusaha rumput laut di Indonesia dan ASTRULI (Asosasi Industri Rumput Laut Indonesia) memenuhi ruang pertemuan di sebuah hotel di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Acara dibuka oleh perwakilan Direktorat Jenderal Pemasaran Produk Kelautan dan Perikanan, selama dua hari (6-7 Agustus 3018) peserta mendengarkan dan mendiskusikan praktik kegiatan budi daya dan usaha rumput laut yang memenuhi prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan.

Dengan metode in class training, WWF-Indonesia dan UNIDO memandu diskusi dan pemaparan lima prinsip Standar Rumput Laut ASC (Aquaculture Stewardship Council) – MSC (Marine Stewardship Council)¹ yang disampaikan oleh Patricia Bianchi.

“Meningkatnya produksi rumput laut bersamaan dengan meningkatnya permintaan adanya sertifikasi bagi pelaku industri rumput laut, ASC dan MSC menyadari pentingnya sebuah standar yang memberikan apresiasi bagi mereka yang memanfaatkan rumput laut secara berkelanjutan dan juga sebagai tolak ukur program perbaikan. Memahami dan menjamin standar budi daya rumput laut berkelanjutan merupakan hal yang berkaitan dan menyuarakan berbagai permasalahan dalam pengimplementasiannya di Indonesia merupakan hal yang sangat penting,” ucap Patricia Bianchi, Seaweed Account Manager MSC dan ASC – telah diterjemahkan –

Standar ini mencakup lima prinsip inti, yaitu (1) Keberlanjutan populasi rumput laut non-budi daya; (2) Dampak lingkungan; (3) Penanganan efektif; (4) Tanggung jawab sosial; dan (5) Relasi dan komunikasi komunitas.

“Tujuan penyelenggaraan seminar ini adalah untuk mendukung pembudidaya rumput laut di Indonesia memahami prinsip dan standar keberlanjutan lingkungan dalam aktivitas budi daya. Harapannya adalah budi daya yang dilakukan tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar, keanekaragamanhayati dan masyarakat, serta berkeadilan bagi pekerja. Prinsip dan standar yang dibahas dalam seminar ini merupakan standar yang berlaku global, yaitu ASC-MSC,” Cut Desyana, Aquaculture Coordinator WWF-Indonesia.

Platform Sustainable Fisheries WWF Buka Ruang Bagi Pelaku Bisnis

unnamedDari tanya jawab seminar yang berlangsung antara peserta dan pembicara, produsen rumput laut menyadari pentingnya memenuhi standar keberlanjutan lingkungan yang diakui secara global. Adanya ekolabel menandakan bahwa produk rumput laut telah teruji kualitas dan proses perolehannya sesuai dengan prinsip keberlanjutan lingkungan, mendapat jaminan dari pasar serta memperluas pangsa pasar. Mengingat bahwa budi daya rumput laut merupakan salah satu produk ekspor terbesar bagi Indonesia, bisnis rumput laut di beberapa tingkatan budi daya sewajarnya dilakukan dengan praktik yang bertanggung jawab dan terjamin komitmennya.

“Celebes Seaweed Group sangat diuntungkan dengan menjadi anggota Seafood savers karena mendapat akses untuk mengikuti kegiatan seminar dan diskusi praktik yang akan menyatukan pemahaman para pelaku rumput laut dalam berbudi daya rumput laut bertanggung jawab,” ungkap Muchtar Saleh, Quality Control Celebes Seaweed Group.

Selain pengusaha di Sulawesi Selatan, asosiasi pengusaha rumput laut Indonesia yaitu ASTRULI pun mengungkapkan tren program perbaikan budi daya rumput laut penting bagi keberlanjutan bisnisnya.

“Mengikuti diskusi seminar, ekolabel adalah a new era. Jika selama ini produsen rumput laut hanya berfokus pada ketahanan pangan, namun kami kini baru menyadari bahwa kedepannya sertifikasi ekolabel lingkungan akan menjadi sebuah standar penjualan. Kami menyambut baik tren ini dan tentunya akan mendorong percepatannya dengan turut raising awereness on it,” ujar Adrian Setiadi, Wakil Sekretaris Jenderal ASTRULI.

“Lewat seminar ini program perbaikan budi daya AIP Seafood Savers yang kami jalani akan lebih terarah lagi dan berfokus pada syarat utama perolehan ekolabel demi menjaga keberlangsungan dan peningkatan kualitas rumput laut Takalar,” tambah Muchtar Saleh, Quality Control Celebes Seaweed Group.

Dari hasil diskusi, pengusaha memiliki peran yang signifikan dalam pemanfaatan dan keberlanjutan sumber daya alam. Bergabungnya berbagai pengusaha dan stakeholder lain dalam upaya ini tentunya akan membantu percepatan praktik budi daya rumput laut yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

8. aktivitas panen_Amriana (WWF-Indonesia)
Proses panen rumput laut jenis gracilaria. ©Amriana/WWF-Indonesia

Note:

¹ ASC-MSC    : The ASC and MSC certification programs are globally recognised as the world’s most credible, science-based standards for sustainable and responsible seafood. All MSC and ASC standards have been developed following the ISEAL Code of Good Practice for Setting Social and Environmental Standards and FAO Guidelines.

Berita Terakhir