Berita & Publikasi

Tangkapan Udang di Sorong Selatan Didominasi Ukuran Remaja

Oleh: Mansur(Enumerator Perikanan, WWF-Indonesia), Yuslan Kelibay(Enumerator Perikanan, WWF-Indonesia) -  


fiali_rajik_udang_di_sorong_selatan_belum_layak_tangkap

Ekosistem bakau yang lebat dengan kelestarian yang terjaga menjadikan Kabupaten Sorong Selatan memiliki sumber daya perikanan  potensial, salah satunya udang. Jenis yang umum ditangkap oleh nelayan adalah udang banana (Penaeus merguiensis), udang windu (Penaeus monodon) dan udang ende (Metapenaeus endeavouri). Ketiga jenis udang ini merupakan komoditas perikanan primadona baik di pasar nasional maupun internasional sehingga ‘tak heran jika komoditas ini menjadi target tangkapan nelayan, tanpa terkecuali nelayan di Kecamatan Konda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat.

Untuk menangkap udang, nelayan di Kecamatan Konda menggunakan: a) kapal motor 1-3 GT; dan b) jaring insang berlapis (trammel net) dengan spesifikasi mata jaring berukuran 1,4 cm, tinggi 2 meter, dan tali ris sepanjang 70 m. Namun praktik penangkapan udang di Kecamatan Konda selama ini belum mengikuti kaidah penangkapan yang baik, sehingga bisa mengancam keberlanjutan sumber daya udang suatu waktu.

yuslan_kelibay_udang_di_sorong_selatan_belum_layak_tangkap__1

Mendukung pemerintah dalam upaya perbaikan perikanan (FIP), WWF-Indonesia melalui proyek USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA) mendata sumber daya perikanan, salah satunya hasil tangkapan udang liar di Kecamatan Konda. Untuk mengetahui kondisi stok atau status udang tangkap liar tersebut, tim enumerator mengambil data: a) produksi hasil tangkapan udang; b) komposisi sebaran ukuran udang; dan c) biologi reproduksi udang. Data tersebut diambil saat nelayan mendaratkan hasil tangkapannya kepada pengumpul.

Hasil pendataan mengkonfirmasi jenis udang yang dominan tertangkap oleh nelayan Kecamatan Konda adalah udang banana dengan jumlah produksi pada 2018 sebanyak 120.191 kg. Jika ditinjau dari aspek reproduksi, sebagian besar udang tersebut didominasi oleh udang remaja (belum dalam masa produktif) khususnya hasil tangkapan pada Agustus-November 2018. Teknik pengamatan tingkat kematangan gonad (TKG) ini merujuk pada Motoh (1981), yakni TKG 1 dan 2 yang berarti belum siap memijah (remaja) dan TKG 3 dan 4 yang berarti siap memijah (dewasa).

Sedikitnya 572 sampel udang banana betina diambil selama Agustus-November 2018. Sampel-sampel ini diambil secara terpisah, yakni sebanyak 143 ekor setiap bulan. Total sampel tersebut terdiri dari: a) 443 ekor (77,4%) dalam kategori TKG 1 dan 2; dan b) 129 ekor (22,6%) dalam kategori TKG 3 dan 4. Sementara itu, jika dilihat dari komposisi ukuran, ukuran tertinggi sebaran panjang karapas udang didominasi dengan yang berukuran 2,7-2,8 cm.

yuslan_kelibay_udang_di_sorong_selatan_belum_layak_tangkapBanyaknya jumlah udang remaja yang ditangkap nelayan mengindikasikan frekuensi penangkapan yang tinggi dan stok udang dewasa yang sedikit. Jika udang remaja ditangkap secara terus-menerus, kecil kemungkinan bagi sumber daya udang untuk menghasilkan anakan baru.

Idealnya, udang yang dimanfaatkan atau ditangkap adalah udang dewasa. Karena pada tingkatan ini, kita dapat memberi kesempatan kepada mereka untuk menghasilkan anakan. Aspek penting lain adalah ketersediaan stok di daerah penangkapan agar tidak menekan sumber daya udang.

Menggunakan panduan Better Management Practice (BMP): Penangkapan Udang Ramah Lingkungan, WWF-Indonesia mendukung nelayan untuk mulai melakukan aktivitas penangkapan yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab. Dalam panduan tersebut, terdapat langkah-langkah untuk: a) proses persiapan aktivitas melaut; b) teknik penangkapan yang baik; dan c) proses penanganan udang agar menghasilkan kualitas tangkapan yang baik. Hal ini juga dapat mendukung program perbaikan perikanan di Sorong Selatan serta Kawasan Konservasi Perairan Teo Inebikia yang sudah dicanangkan dalam Surat Keputusan No. 523/25/1/2019 tentang Pencadangan Kawasan Laut Seribu Satu Sungai Teo Enebikia oleh Gubernur Papua Barat pada  Februari 2019.

Referensi:

  • Motoh, H. 1981. Studies on the fisheries biology of the giant tiger prawn, P. monodon, in the Philippines. Tech. Report No. 7, SEAFDEC, Philippines. 128 p.
  • WWF-Indonesia. 2015. Better Management Practice Seri Panduan Perikanan Skala Kecil: Penangkapan Udang Ramah Lingkungan dengan Alat Tangkap Jaring Tiga Lapis (Trammel Net). Jakarta Selatan: WWF-Indonesia.

Berita Terakhir