Berita & Publikasi

Belajar dari Pengalaman, AIP Udang Sulawesi Selatan Kian Mantap Tingkatkan Ekosistem Mangrove

Oleh: Idham Malik(Aquaculture Officer, WWF-Indonesia) -  


© WWF-ID / Idham Malik
© WWF-ID / Idham Malik

Tak terbayangkan sebelumnya, jika penerapan Standar ASC Shrimp untuk tambak mitra PT. Bomar di Pallameang dan Desa Patobong, Kec. Mattirosompe, Kab. Pinrang, Sulawesi Selatan, dapat memiliki implikasi luas, dalam hal rehabilitasi mangrove, yang meluas hingga kabupaten-kabupaten lain selain Pinrang.

Pada prinsip 2 ASC Shrimp, diharuskan adanya laporan BEIA (Biodiversity Enviromental Impact Assessment) yang menjelaskan dampak tambak dan aktivitas tambak terhadap ekosistem dan keanekaragaman hayati. Dari laporan tersebut PT Bomar diharuskan untuk merehabilitasi ekosistem mangrove seluas 28,47 Ha, yang merupakan setengah dari luasan tambak yang ingin disertifikasi, yaitu 56,95 Ha.

Untuk itu, sejak Juli 2017, dilakukan penanaman mangrove yang dimulai di sekitar kawasan tambak mitra PT Bomar, di Pallameang, Pinrang. Tak kurang dari 1000 pohon yang ditanam di area Pallameang hingga Januari 2018, namun sepenuhnya gagal karena di sekitar lokasi cukup banyak kambing yang berkeliaran dan memakan daun mangrove. Kegagalan ini menjadi pelajaran berharga bagi tim lapangan untuk mencari lokasi yang tidak ada hama kambing.

Baru pada Juni 2018, penanaman dalam jumlah besar menunjukkan hasil, yaitu penanaman 4450 di sepanjang saluran air Pallameang dan Patobong dan pesisir Desa Tasiwali’e, Suppa, yang sulit diakses oleh kambing. Tingkat keberhasilan lebih dari 70%. Meski begitu, luasan area yang telah dicover baru 1,284 Ha. Hal ini menjadi tantangan bagi WWF untuk mengejar luasan yang begitu besar dalam tempo yang singkat.

Pengalaman sebelumnya memang cukup menantang, ditambah lagi dengan penanaman di pesisir Desa Tasiwalie dan Wiringtasi, Kecamatan Suppa pada Juli 2018 yang menunjukkan hasil rendah yaitu kurang dari 50%. Berangkat dari sini, disusunlah strategi yang lebih matang, untuk betul-betul menanam mangrove di lokasi yang tepat, penggunaan bibit yang baik, serta adanya pengorganisasian relawan untuk penanaman mangrove.

Berkaca dari Pengalaman Penanaman Mangrove

Aquaculture Celebes Community (ACC) yang merupakan mitra strategis WWF-Indonesia untuk rehabilitasi mangrove sebelumnya telah mengorganisir lebih dari 80 pemuda Makassar, Pinrang dan Pare-Pare. Komunitas tersebut tergabung dalam komunitas-komunitas pecinta alam, membentuk satu organisasi kunci relawan rehabilitasi mangrove, yaitu Garda Mangrove, yang terbentuk pada 26 Juli 2018.

Bersama ACC dan Garda Mangrove, dilakukan identifikasi secara rutin lokasi-lokasi yang potensial penanaman mangrove, seperti daerah Wiringtasi, Ujung Labuang, dan Cempa di Kabupaten Pinrang, yang menunjukkan tingkat hidup yang baik. Begitu halnya dengan penanaman lanjutan di area di luar Kabupaten Pinrang, yaitu 2000 mangrove di Desa Bulu Cindea, Kec. Bungoro Kab. Pangkep menunjukkan angka sekitar 70%, serta penanaman 3000 mangrove di Desa Bonto Bahari, Kec. Bontoa, Kab. Maros menunjukkan angka di atas 70%. Bahkan, di area yang agak jauh, seperti di Dusun Puntondo, Kec. Laikang, Kab. Takalar, penanaman 5000 pohon menunjukkan angka yang jauh lebih baik, yaitu 90 persen. Hal yang sama juga terjadi pada penanaman 5000 bibit di Dusun Gonda, Desa Loliko, Kec. Campalagian, Kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Hingga 22 September 2019, pasca penanaman 3000 bibit mangrove di Dusun Binasangkara, Desa Ampekale, Kec. Bontoa, Kab. Maros, telah dilakukan penanaman mangrove sebanyak 55.885 bibit, dengan luas area yang diperikirakan hidup yaitu 12 hektar. Berarti masih terdapat 2,2 hektar lagi yang akan ditanam sebelum audit eksternal ASC Shrimp PT. Bomar, yang dalam penanaman mangrove ini didukung pendanaan dari Koperasi JCCU (Japanese Consumers’ Co-operative Union) Jepang.

Di samping terehabilitasinya lahan pesisir untuk menjadi ekosistem mangrove, kegiatan ini juga mendorong gerakan cinta lingkungan pesisir bagi generasi muda Sulawesi Selatan. Dapat dibayangkan, bahwa setiap kegiatan penanaman mangrove selalu melibatkan pemuda/mahasiswa antara 30-70 orang.

© WWF-ID / Idham Malik
© WWF-ID / Idham Malik

Pemuda yang dilibatkan adalah pemuda yang tergabung dalam KPA (Kelompok Pecinta Alam) maupun pemuda yang berdomisili di desa lokasi penanaman mangrove, seperti karang taruna ataupun himpunan pemuda desa. Pada beberapa agenda penanaman mangrove, memang selalu diringi dengan sesi diskusi pentingnya mangrove. Selain itu, adanya sesi tindak lanjut, sebagai gambaran apa yang akan dilakukan selanjutnya dan seperti apa keterlibatan pemuda-pemuda dalam rehabilitasi mangrove.

Pada akhirnya, tujuan mulia WWF-Indonesia dalam melestarikan ekosistem mangrove pun mendapat perhatian dari para generasi muda. Kegiatan menanam mangrove secara beruntun dalam dua tahun terakhir ini dan beberapa bulan ke depan, memberikan kesempatan kepada pemuda-pemuda untuk terlibat aktif, sehingga dapat melahirkan satu generasi pemuda yang cinta lingkungan, dan rela berkorban untuk bersama-sama mengembalikan ekosistem pesisir. Penulis berpendapat, dampak lanjut dari mentalitas cinta lingkungan ini bisa jauh lebih dahsyat lagi.

Berita Terakhir