Berita & Publikasi

Mangrove Brotherhood : Wadah Pertemuan Pegiat Lingkungan Pinrang

Oleh: Idham Malik(Aquaculture Officer, WWF-Indonesia) -  


Volunteer Mangrove Brotherhood menanam di Tanroe/ ©Mangrove Brotherhood Pinrang
Volunteer Mangrove Brotherhood menanam di Tanroe/ ©Mangrove Brotherhood Pinrang

Pada 5 – 6 September 2020, sekitar 280 anak muda berkumpul di Dusun Tanroe, Desa Baba Binanga, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang. Pertemuan ini dilakukan dalam rangka kegiatan rehabilitasi pesisir dengan 10.000 bibit propagul mangrove jenis Rhizophora, yang diselenggarakan oleh Program Akuakultur WWF-Indonesia bekerja sama dengan sekitar 26 komunitas pemuda yang bergabung dalam wadah Mangrove Brotherhood. WWF-Indonesia melakukan penanaman mangrove sebagai bentuk dukungan kepada perusahaan PT. Bogatama Marinusa (Bomar) untuk memperoleh sertifikat ASC (Aquaculture Stewardship Council), yang salah satu syaratnya yaitu melakukan rehabilitasi mangrove untuk mengkompensasi 50 % luasan mangrove yang sebelumnya dikonversi menjadi tambak sebelum Mei 1999.

Kegiatan tersebut berlangsung semarak, para peserta berdatangan menggunakan kendaraan roda dua ke Dusun Tanroe. Menuju ke dusun ini membutuhkan waktu paling tidak 20 menit dari jalan utama poros Pinrang-Polewali Mandar, melewati pematang tambak hingga tembus ke Dusun yang dihuni rata-rata transmigran nelayan dari Kab. Pangkep. Dusun ini dianggap salah satu wilayah terpencil di Pinrang, dimana listrik baru masuk ke kampung nelayan tersebut pada Agustus 2019.

Sesampainya di sana sebagian peserta melakukan pemantauan terhadap mangrove yang telah ditanam sebelumnya, yaitu pada 4 Agustus 2019 sebanyak 3000 bibit, 1 September 2019 sebanyak 8000 bibit, dan 23 Desember 2019 sebanyak 1300 bibit. Rata-rata keberhasilan mangrove yang telah ditanam tersebut sekitar 80%. Hal ini pula yang menjadi alasan Tanroe, menjadi lokasi target konservasi WWF-Indonesia.

Volunteer diskusi mengenai teknik menanam Mangrove / ©Mangrove Brotherhood Pinrang
Volunteer diskusi mengenai teknik menanam Mangrove / ©Mangrove Brotherhood Pinrang

Setelah makan malam, para relawan rehabilitasi mangrove menyaksikan film dokumenter konservasi mangrove WWF-Indonesia, sebagai agenda edukasi pentingnya mangrove dan cara menanam mangrove dengan baik. Esok harinya, 6 September 2020, pada pukul 09.00 WITA, para relawan berdiskusi bersama mengenai peran pemuda dalam perbaikan lingkungan pesisir. Cukup banyak komunitas pemuda yang merespon diskusi tersebut. “Pemuda Pinrang harus mengambil peran dalam mendorong pembangunan di daerah-daerah terpencil. Di Tanroe, beberapa komunitas sudah terlibat untuk membantu pemberdayaan masyarakat setempat. Seperti pendidikan anak-anak Dusun Tanroé, yang agak tertinggal karena hanya terdapat satu guru di sana, kemudian membantu masyarakat untuk menghubungkan dengan pemerintah setempat agar masyarakat memperoleh penerangan. Tanggapan lain dari pemuda, agar mangrove-mangrove yang telah ditanami tetap dikawal perawatannya dan juga statusnya diperjelas menjadi kawasan konservasi” ujar Azwar, salah satu relawan dari Komunitas Literasi Budaya Pinrang.

Baru pada pukul 01.00 Wita, relawan bersama-sama menyeberang sungai yang sudah dangkal menuju lokasi penanaman mangrove. Propagul yang sebanyak 10.000 dibagi dalam 10 karung, dimana masing-masing karung dikawal oleh satu tim penanaman. Dalam satu tim, terdapat anggota yang memasang patok/ajir, ada yang ditugaskan menggali dan menanam, dan dikoordinir oleh ketua untuk memastikan penanaman sesuai prosedur. Prosedur penanaman saat itu, yaitu menancap propagul mangrove sedalam 1/3 dari panjang propagul, jarak penanaman masing-masing propagul yaitu 30-50 cm, dan pemasangan ajir pada bagian tepi luar untuk mencegah limbah kayu yang dapat merusak bibit mangrove. Penanaman hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam, pasca penanaman, terdapat agenda foto-foto bersama antar relawan ataupun sesama komunitas.

Sebelum kembali ke lokasi masing-masing, komunitas yang bergabung dalam Mangrove Brotherhood sepakat untuk terus mendukung kegiatan konservasi WWF-Indonesia untuk area Pinrang dan sekitarnya. Khusus untuk area Tanroe, akan dilakukan kegiatan penanaman susulan bagi propagul yang rusak/mati, melakukan pendampingan kegiatan pembibitan mangrove yang dilakukan oleh masyarakat Tanroe, serta melakukan pemantauan terhadap penyu sisik yang biasa mendarat ke pesisir Tanroe, Pinrang. Teman-teman komunitas juga terus mendukung aktivitas literasi/pendidikan kepada siswa Sekolah Dasar Tanroe, serta mendorong pemerintah untuk segera melakukan pembangunan infrastruktur jalan, untuk mempermudah akses masuk ke Tanroe.

Masa Depan Mangrove Brotherhood

Volunteer Mangrove Brotherhood menanam di Tanroe/ ©Mangrove Brotherhood Pinrang
Volunteer Mangrove Brotherhood menanam di Tanroe/ ©Mangrove Brotherhood Pinrang

Kegiatan penanaman mangrove di Tanroe menjadi penanda kebangkitan pemuda Pinrang untuk mendukung agenda-agenda konservasi. Menanam mangrove sebagai momen bersama pemuda untuk menyatukan spirit dan visi, sehingga ke depan, pemuda akan tetap bersatu untuk tolong-menolong dalam kegiatan konservasi, baik itu penanaman mangrove, pengelolaan sampah plastik, konservasi penyu dan karang, hingga konservasi hutan.

Mangrove Brotherhood ini tidak hanya diinisiasi di Pinrang, tapi juga di area Bone dan Sinjai, seperti yang dilakukan oleh Komunitas Mangrove Sejati yang menghimpun sekitar 20 komunitas pemuda dan stakeholder pemerintah desa dan kelompok tani mangrove di Sinjai. Rencananya, Mangrove Brotherhood juga akan diinisiasi di daerah Maros dengan melibatkan komunitas-komunitas pemuda peduli lingkungan. Harapannya, di setiap daerah pesisir, Mangrove Brotherhood tumbuh bersama komunitas, untuk melahirkan satu generasi pembeda, yang lebih peduli, lebih progressif dalam membela agenda-agenda perbaikan lingkungan.

Berita Terakhir