Berita & Publikasi

Menanam 10.000 Mangrove Bersama Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Oleh: Idham Malik(Aquaculture Officer, WWF-Indonesia) -  


Penanaman 10.000 Mangrove di Binanga Sangkara, Sulawesi Selatan. ©WWF-ID / Idham Malik
Penanaman 10.000 Mangrove di Binanga Sangkara, Sulawesi Selatan. ©WWF-ID / Idham Malik

Program Akuakultur WWF-Indonesia melibatkan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Maros untuk mendorong agenda perbaikan lingkungan pesisir di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada November 2020. Kegiatan dimulai dengan diskusi curah pendapat (brainstorming) oleh komunitas pemuda Maros terkait isu lingkungan pada 13 November 2020, sore hari di kawasan wisata Rammang-Rammang, Kabupaten Maros. Dilanjutkan dengan diskusi pentingnya keterlibatan penerus IPM Maros dalam agenda perbaikan lingkungan Maros di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdam) Kabupaten Maros. Puncak dari diskusi lingkungan ini adalah kegiatan penanaman 10.000 bibit mangrove di Binanga Sangkara, Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kab. Maros.

Pada kegiatan curah pendapat persoalan lingkungan Kab Maros, Wawan Mattaliu selaku pemantik materi menyebutkan bahwa alam Maros merupakan area perlintasan sejarah keanekaragaman hayati dunia yang dimulai sejak kedatangan Alfred Russel Wallace di Bantimurung Maros melalui identifikasi beragam jenis kupu-kupu dan monyet/kera. Bahkan, Wawan berpendapat bahwa alam Maros turut menyumbangkan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya terkait data kesinambungan spesies teori evolusi Darwin. Hal ini menjadi pengantar bagi para peserta yang terdiri atas 15 Komunitas pemuda, di antaranya IPM Maros, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Maros, Pemuda Muhammadiyah Maros, Jalan-Jalan Seru (JJS) Maros, Anak-Anak Peduli, Gondrong Butta Salewangang, Sapma Maros, Komunitas Orang Indonesia (OI), Pemuda Rammang-Rammang, dll.

Komunitas pemuda ini berbagi informasi dan kegelisahan mengenai persoalan lingkungan yang berada di sekitarnya dan yang mereka tangani, seperti persoalan sampah dan plastik, pencemaran sungai maros, penebangan mangrove Ampekale, isu penambangan pasir di Mallawa, hingga isu penambangan semen yang mengancam kelestarian pengunungan kars di Maros. Tindak lanjut dari pertemuan tersebut yaitu terbentuknya forum bersama komunitas pemuda Maros yang akan melakukan diskusi regular wacana perbaikan lingkungan dan peningkatan kapasitas pemuda Maros, serta adanya agenda aksi bersama untuk perbaikan lingkungan, seperti agenda penanaman mangrove.

Pada 15 November 2020 pukul 8.00 WITA, sekitar 60 relawan berkumpul di Pusdam Maros untuk pengarahan metode penanaman mangrove di lokasi Binanga Sangkara, Maros. Relawan memperoleh gambaran mengenai lokasi penanaman yang bersubstrat lumpur dengan kedalaman satu meter, serta ancaman tiram yang kemungkinan akan melukai kaki relawan, sehingga relawan diminta untuk memakai kaos kaki. Dijelaskan pula jarak penanaman antar propagul, yaitu antara 20-30 sentimeter. Kondisi arus yang kuat di pesisir Binanga Sangkara, Maros, mengharuskan penanaman jarak dekat agar propagul tahan terhadap hantaman arus kencang.

Peserta juga diarahkan melakukan strategi penanaman, yaitu dengan cara mengangkut bibit secara berantai dari tangan ke tangan akibat sulitnya menggerakkan kaki di lahan berlumpur hingga disambut oleh tim penanaman yang berada di titik akhir penanaman. Peserta berangkat ke lokasi pada pukul 9.00 WITA dan kegiatan penanaman berlangsung selama 7 jam dari pukul 10.00 hingga 17.00 WITA. Relawan mulai mudah menanam ketika air pasang selepas tengah hari, sehingga bibit dengan mudah dipindahkan ke lokasi titik penanaman. Kondisi ini pun menjadi pelajaran untuk melakukan penanaman dalam kondisi air pasang.

Penanaman 10.000 mangrove di Binanga Sangkara merupakan kelanjutan dari program rehabilitasi mangrove program akuakultur untuk mendorong pemenuhan target luasan penanaman mangrove Aquaculture Improvement Programme (AIP) untuk Sertifikasi Aquaculture Stewardship

Council (ASC) PT. Bogatama Marinusa (BOMAR) seluas 28 hektar atau setengah dari luasan tambak yang didaftarkan untuk sertifikasi, yaitu 56 hektar. Hingga Oktober 2020, WWF-Indonesia bersama relawan dari berbagai komunitas telah menanam mangrove sebanyak 179.685 bibit mangrove yang diperkirakan hidup sekitar 158.968 bibit mangrove, sedangkan luas lahan yang telah tertanami diperkirakan seluas 22 hektar. Sementara untuk lokasi penanaman di Binanga Sangkara-Maros, telah dilakukan penanaman sebanyak empat kali dengan jumlah total mangrove tertanam yaitu 24.000 bibit dengan luas area penanaman 2,1 hektar. Mangrove yang telah ditanam pada 15 November 2020 itu akan terus diawasi dengan melibatkan peran aktif dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sebagai mitra aktif WWF-Indonesia dalam menguatkan agenda konservasi di Kabupaten Maros.

Berita Terakhir