Berita & Publikasi

Potensi dan Budidaya Rumput Laut Berkelanjutan di Indonesia

Oleh: Muhammad Azril(Aquaculture Specialist) -  


Rumput laut Eucheuma cottonii siap panen/ ©WWF-Indonesia/Nur Ahyani
Rumput laut Eucheuma cottonii siap panen/ ©WWF-Indonesia/Nur Ahyani

Dua pertiga wilayah Indonesia adalah wilayah perairan dengan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang kaya dan melimpah. Luas perairan Indonesia 6.400.000 km2 dengan panjang garis pantai 110.000 km, didalamnya terdapat 27.2% species flora dan fauna dari seluruh dunia, salah satunya adalah rumput laut dengan potensi 8.6% dari jumlah biota laut di dunia. Weber Van Bosse dalam ekspedisi Laut Siboga pada tahun 1899-1900 mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki 782 jenis rumput laut dari 8.642 species rumput laut di dunia. Tiga jenis rumput laut potensial tumbuh di Indonesia yaitu alga merah (Rhodophyceae) sebanyak 452 jenis, alga hijau (Chlorophyceae) sebanyak 196 jenis, dan alga coklat (Phaeophyceae) dengan jumlah sekitar 134 jenis.

Budidaya rumput laut merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk memaksimalkan pemanfaatan potensi rumput laut, dimana produksi dari sektor budidaya sebesar 98%, selebihnya 2% merupakan pengambilan dari alam. Potensi lahan budidaya rumput laut Indonesia berkisar 12.13 juta hektar, namun pemanfaatannya baru sebesar 4.5% (2.96 juta hektar) untuk budidaya Gracilaria sp. di tambak dengan system polyculture dengan ikan bandeng/udang dan 2.25% (272.336 hektar) untuk budidaya Eucheuma sp. di laut dengan sistem monokultur. Sedangkan untuk sebaran area budidaya rumput laut Eucheuma sp. & Gracilaria sp. di Indonesia tersebar dari Aceh hingga Papua, dimana tiga lokasi yang paling potensial adalah Papua Barat dengan luas 301.000 ha, disusul Sulawesi Selatan 250.000 ha dan Maluku 210.000 ha.

Saat ini Indonesia menjadi salah satu negara penghasil rumput laut dengan kapasitas produksi 61.81% (328.000 ton) dari total produksi dunia di tahun 2017. Negara tujuan ekspor utama rumput laut Indonesia adalah Tiongkok dengan total ekspor 149 ribu ton (85.5% dari total ekspor). Indonesia masih menjadi negara dengan rata-rata produksi rumput laut Eucheuma sp. tertinggi di dunia dari tahun 2010-2018 yaitu 96.05% (7.72 juta ton/tahun) diikuti oleh Zanzibar 1.56% (0.13 juta ton/tahun) dan Filipina 1.39% (0.11 juta ton). Sedangkan rumput laut Gracilaria sp., Indonesia adalah negara eksportir kedua terbesar di dunia dengan rata-rata produksi 28.45% (0.97 juta ton/tahun), bertengger setelah Tiongkok dengan rata-rata produksi 69.19% (2.35 juta ton/tahun) dan diurutan ketiga Filipina 0.35% (0.01 juta ton) (Statistik FAO dalam Ningsih T., – DJPDSPKP. 2018). Selain itu, rata-rata tren permintaan rumput laut global sejak tahun 2015 – 2019 untuk rumput laut segar/dingin/beku/kering adalah 44.94% (USD 1.07 Milyar). Untuk rata-rata tren permintaan rumput laut karaginan adalah 44.31% (USD 1.06 Milyar) dan rumput laut agar-agar adalah 10.75% (USD 0.26 Milyar).  Pada tahun 2019, volume ekspor rumput laut Indonesia adalah 324.850 ton dengan negara tujuan utama adalah Tiongkok dan diikuti oleh USA, Republic of Korea, Chile, Japan, UK, Netherlands, Spain, Vietnam, Philippines dan lainnya.

Melihat begitu besarnya potensi budidaya rumput laut di Indonesia, maka diperlukan upaya untuk mengoptimalkan potensi budidaya rumput laut, seperti memaksimalkan peran masing-masing stakeholder yang terlibat dalam peningkatan daya saing rumput laut (Pemerintah Indonesia, Kementerian, Pelaku Utama dan Usaha Rumput Laut, Asosiasi Rumput Laut Indonesia, Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia, Lembaga Penelitian, Institusi Pendidikan dan Komisi Rumput Laut Indonesia dan lainnya).

Salah satu pembudidaya anggota CSG Bone memperlihatkan rumput laut Gracilaria sp. hasil penjemuran/ ©WWF-Indonesia/Sulfianti
Salah satu pembudidaya anggota CSG Bone memperlihatkan rumput laut Gracilaria sp. hasil penjemuran/ ©WWF-Indonesia/Sulfianti

Dari sektor hulu, Seafood Savers sebagai salah satu bentuk inisiatif WWF-Indonesia untuk menjembatani para pelaku industri dalam mewujudkan perikanan Indonesia yang berkelanjutan telah menjalin kerja sama dengan pelaku utama dan usaha budidaya rumput laut Gracilaria sp. & Eucheuma sp. di Indonesia, seperti CV. Celebes Seaweed Group (CSG) di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dan Kelompok Pembudidaya Rumput Laut Dewara dan Lagundi di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Seafood Savers bertugas dalam memberikan apresiasi, asistensi, penghubung, advokasi dan edukasi kepada perusahaan dalam mewujudkan perikanan berkelanjutan melalui skema implementasi Aquaculture Improvement Program (AIP). Terdapat lima prinsip standar ASC-MSC Rumput Laut yang menjadi acuan dalam implementasi AIP.

Prinsip Satu: Keberlanjutan Populasi Rumput Laut Non-Budidaya, dimana implementasinya diharapkan dapat mempertahankan stok rumput laut non-budidaya, strategi pemanenan yang responsif terhadap keadaan target status stok, dan tidak berdampak pada struktur genetika populasi rumput laut non-budidaya.

Prinsip Dua: Dampak Lingkungan. Implementasi prinsip dua ini diharapkan kegiatan budidaya rumput laut tidak mengurangi struktur dan fungsi habitat rumput laut; tidak mengganggu elemen kunci penyusun struktur dan fungsi ekosistem rumput laut; tidak memiliki dampak terhadap spesies ETP (langka, terancam punah dan dilindungi); terdapat strategi pencegahan penyebaran hama dan penyakit, efisiensi penggunaan energi; translokasi tidak mungkin menyebabkan adanya penyakit, hama, patogen dan bukan spesies asli kedalam ekosistem sekitar; dan mencegah serangan dampak ekosistem dari hadirnya spesies asing/baru.

Prinsip Tiga: Manajemen yang Efektif. Implementasi prinsip ini adalah kegiatan budidaya rumput laut tidak melanggar aturan hukum dan/atau adat istiadat setempat; proses pengambilan keputusan yang responsif, menggunakan pendekatan pecegahan, akuntabilitas dan transparansi; seluruh informasi tentang keputusan, data unit produksi yang mendukung keputusan, alasan pengambilan keputusan, sebaiknya tersedia bagi semua pemangku kepentingan berdasarkan permintaan; serta kepatuhan dan penegakan aturan.

Prinsip Empat: Tanggungjawab Sosial. Prinsip ini bertujuan menghindari insiden/pelecehan dan tidak mempekerjakan pada buruh anak dan remaja (dibawah 15 tahun); tidak ada kerja paksa, kerja terikat dan kerja wajib; tidak ada insiden dan resiko diskriminasi; terjaminnya kesehatan, keselamatan dan asuransi pekerja; penggajian yang adil dan sesuai; adanya kebebasan brserikat dan perundingan bersama; adanya kebijakan yang memastikan perlindungan dari tindakan kekerasan praktik disipliner; pembagian jam kerja yang adil; dan adanya pelatihan lingkungan dan sosial.

Prinsip Lima: Hubungan dan Interaksi dengan Masyarakat. Implementasi dalam prinsip ini seperti unit produksi rumput laut memberikan manfaat sosia yang positif bagi komunitas; penyelesaian perselisihan yang dilakukan oleh unit produksi harus memenuhi syarat undang-undang nasional yang transparan; hak-hak masyarakat adat/kelompok pribumi dihormati oleh unit produksi dan ada upaya mengakomodasi kebutuhan mereka; unit produksi mematuhi peraturan navigasi dan memungkinkan akses bagi pengguna sumberdaya lainnya; dan adanya upaya identifikasi dan pemulihan peralatan substansial, penonaktifan unti produksi atau struktur berbasis air yang tidak terpakai.

Salah satu anggota pembudidaya rumput laut Gracilaria sp. mitra CSG Bone mengatakan bahwa “ASC-MSC rumput laut sangat baik dilaksanakan agar kegiatan budidaya tetap ramah lingkungan dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar, dan kita juga bisa mendapatkan harga yang lebih baik”. Dalam rangka mengoptimalkan implementasi kegiatan AIP, diperlukan koordinasi yang solid dan kerjasama yang baik antar para stakeholders dan pihak-pihak yang terlibat, seperti pihak perusahaan, kelompok pembudidaya rumput laut, WWF-Indonesia (tim aquaculture), Seafood savers, instansi-instansi pemerintah (tingkat desa, kecamatan, kabupaten, dinas kelautan dan perikanan, penyuluh, dll), institusi pendidikan, pemangku adat dan seluruh masyrakat sekitar lokasi budidaya rumput laut. Sehingga, pelaku utama dan usaha dampingan WWF-Indonesia diharapkan mampu mendapatkan sertifikat ekolabel Aquaculture Stewardship Council (ASC) dan menjadi pelopor bagi perusahaan dan kelompok budidaya rumput laut lainnya di Indonesia untuk menerapkan sistem budidaya yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Berita Terakhir