Berita & Publikasi

Seafood Savers Imbau Konsumen Untuk Membeli Sustainable Seafood Dalam Expo Beli Yang Baik

Oleh: M. A. Indira Prameswari(Seafood Savers Communication Assistant), Siti Yasmina Enita(Seafood Market Transformation Specialist) -  


Suasana Expo Beli Yang Baik di Mal Kuningan City, Jakarta © Yayasan WWF Indonesia / Anisa I. Prameswari
Suasana Expo Beli Yang Baik di Mal Kuningan City, Jakarta © Yayasan WWF Indonesia / Anisa I. Prameswari

Seafood Savers berkesempatan untuk berpartisipasi dalam gelar wicara (talk show) pada acara Beli yang Baik Sustainable Consumption and Production Expo, Kamis 22 April 2021. Acara tersebut dilakukan secara daring dan terhubung dengan pameran Beli Yang Baik secara langsung di Kuningan City Mall, Jakarta. Acara tidak hanya dihadiri oleh Seafood Savers yang diwakili oleh Siti Yasmina Enita (Syenit) selaku perwakilan dari sekretariat Seafood Savers, tetapi juga oleh anggota dan mitra Seafood Savers yakni Sanchia dan Catrien dari Japfa sebagai perwakilan buyer dari PT Iroha Sidat Indonesia (PT ISI) dan Tardi Sarwan (Tardi) sebagai perwakilan dari Fish’n Blues. Gelar wicara yang bertemakan “The Seafood Needs You” tersebut menarik antusiasme banyak pemerhati perikanan dan pecinta makanan laut.

Seafood Savers yang diwakili oleh Syenit memaparkan bagaimana proses penangkapan dan budidaya perikanan yang tidak berkelanjutan sangat mempengaruhi kualitas dan keberlangsungan produksi. Dalam pemaparannya, dijelaskan juga terkait cara-cara penangkapan ikan dengan alat tangkap berbahaya seperti racun dan bom. Cara-cara tersebut tidak hanya membahayakan konsumen namun juga ekosistem laut. Metode penangkapan yang merusak mengakibatkan berkurangnya ketersediaan stok ikan, mempersempit area penangkapan, dan membuat upaya penangkapan menjadi lebih besar. Budidaya yang disebut sebagai solusi penangkapan ikan pun juga dapat menjadi berbahaya jika dilakukan dengan praktik yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, para pelaku industri perikanan perlu menerapkan praktik bisnis yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Seafood Savers dibentuk untuk mendampingi para industri perikanan yang ingin melakukan perbaikan perikanan tangkap maupun budidaya.

Pemaparan dilanjutkan oleh perwakilan Japfa, Sanchia dan Catrien memaparkan pengalaman Japfa dalam mendorong industri budidaya untuk mengikuti praktik budidaya yang berkelanjutan. Sanchia menjelaskan bahwa ikan tilapia atau yang lebih dikenal dengan Toba Tilapia telah memegang sertifikasi Aquaculture Stewardship Council (ASC) dibawah naungan Japfa. Produk sidat yang mereka budidayakan pun diproses berdasarkan standar-standar ASC melalui program perbaikan budidaya dibawah keanggotaan Seafood Savers. Proses produksi yang dilakukan oleh Japfa dan para suppliernya juga menerapkan praktik zero fish waste, sehingga produk-produk sampingan (byproduct) hasil produksi tidak ada yang dibuang begitu saja. Menurut Catrien, penerapan praktik perikanan berkelanjutan ini unik dan menantang, tetapi hasil yang didapat pada kualitas produk sepadan dengan tanggung jawab yang perlu dipenuhi oleh perusahaan.

Lain lagi dengan pengalaman Fish’n Blues yang menjadi penyuplai seafood, Tardi mengungkapkan bahwa peran perusahaan distributor dalam makanan laut yang berkelanjutan adalah lewat pemilihan sumber perikanan yang bertanggung jawab. Sebagai distributor  produk seafood berkelanjutan pertama di Indonesia, Fish’n Blues menyuplai barang-barangnya berdasarkan hasil produksi budidaya maupun perikanan tangkap yang menerapkan praktik-praktik berkelanjutan. Tidak hanya itu, sumber produk yang dijual juga berasal dari petambak dan nelayan lokal sehingga memenuhi tanggung jawab sosial dalam pengelolaan sumber daya manusia lokal. Menurut Tardi, konsumen juga perlu mencari tahu asal-usul seafood yang dikonsumsi sehingga konsumen turut membantu keseluruhan proses perikanan berkelanjutan.

Pada prosesnya, bukan hanya para pelaku usaha yang bertanggung jawab menyediakan seafood yang berkelanjutan, namun juga para konsumen. Konsumen memiliki peran yang besar dalam penyediaan produk seafood yang berkelanjutan, tanpa adanya permintaan dari konsumen, maka dapat menurunkan motivasi para pelaku industri perikanan dalam mengupayakan proses penyediaan seafood yang berkelanjutan maupun bertanggung jawab. Adapun beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para konsumen yaitu: (1) Mengidentifikasi atau mengetahui apa saja hewan laut yang diperbolehkan untuk diperjualkan dan/atau dikonsumsi; (2) Melihat pada panduan konsumen, Seafood Advisor, salah satu aplikasi yang dirancang oleh Seafood Savers; (3) Konsumen juga bisa mulai menanyakan sumber seafood kepada penjual, di swalayan maupun di restaurant, dan terakhir; (4) Konsumen bisa memilih produk yang sudah memiliki ecolabel, seperti MSC, ASC, Dolphin Save, Friend of The Sea, dan lain-lain.

Gelar wicara ditutup dengan kuis berhadiah daring yang diikuti oleh sepuluh peserta. Ketiga pemenang kuis kemudian masing-masing dikirimkan bingkisan berupa produk seafood berkelanjutan dari masing-masing pembicara. Acara yang merupakan bagian dari keseluruhan rangkaian Beli Yang Baik Sustainable Consumption and Production Expo ini mengakhiri sesi pagi pada hari ketiga pameran yang diusung oleh Yayasan WWF Indonesia. Selain gelar wicara, pameran juga dimeriahkan dengan expo daring yang diisi oleh anggota-anggota Seafood Savers seperti PT Bumi Menara Internusa, PT IAMBEU Mina Utama, dan Natura Seafood.

Informasi lebih lanjut terkait Beli Yang Baik Sustainable Consumption and Production Expo dapat dilihat di www.beliyangbaik.org

Berita Terakhir