Berita & Publikasi

Sesaknya Sampah di Laut, Apa Imbasnya ke Seafood Kita?

Oleh: Fitri Ayunisa(Intern Seafood Savers), Arif Fajar Sulistyo(Seafood Savers Communication Assistant) -  


© Shutterstock / Rich Carey / WWF
© Shutterstock / Rich Carey / WWF

Peningkatan jumlah populasi manusia tiap tahunnya berbanding lurus dengan permintaan produksi plastik dalam berbagai sektor. Mulai dari sektor industri otomotif, konstruksi, kemasan makanan, obat-obatan, pertanian, hingga elektronik. Akan tetapi, fakta menyebutkan bahwa 39,6% sampah plastik di dunia pada tahun 2013 berasal dari pembungkus makanan¹.  Meskipun pembungkus tersebut ada yang ditempatkan di TPA yang kemudian dibakar maupun didaur ulang, tetapi sebagian dari plastik tersebut justru berakhir dibuang ke lautan.

Laut Terkontaminasi Mikroplastik

© WWF-Aus / Veronica Joseph
© WWF-Aus / Veronica Joseph

Setidaknya, diperkirakan sekitar 5.250.000.000.000 sampah plastik yang beratnya sebesar 268.940 ton mengambang di laut, itu pun belum termasuk potongan di dasar laut atau di pantai².  Jumlah tersebut kian meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Dapat dibayangkan begitu sesak dan tingginya polusi plastik di lautan yang menyerang organisme laut saat ini.

Permasalahannya adalah ikan memakan sampah plastik di lautan karena mereka menemukan ketertarikan dengan bau senyawa kimia plastik³. Ketika plastik tersebut masuk ke lautan lalu bercampur dengan air garam dan akhirnya terpotong menjadi beberapa bagian kecil, plastik tersebut akan menciptakan bau yang mirip dengan krill–berupa udang yang tersebar di semua samudera dunia. Apalagi dengan kenyataan bahwa 9 dari 10 burung lautan di dunia saat ini memiliki potongan plastik di tubuhnya sebab memakan hewan seafood yang juga telah memakan plastik⁴.

Apabila sampah plastik terus merambah area lautan, bisa dipastikan bahwa manusia yang secara rutin memakan hewan seafood mengkonsumsi setidaknya 780.000 mikroplastik setiap tahun dan sistem pencernaan manusia dapat menyerap 4.000 mikroplastik tersebut⁵. Parahnya lagi, beberapa ilmuwan juga memprediksi bahwa di tahun 2050, prediksi plastik yang dihasilkan oleh manusia seukuran dengan empat buah truk tiap menit dan FAO (2017) memperkirakan lebih dari 1 miliar ton plastik di tahun tersebut.

Mikroplastik dan Ikan di Perairan Indonesia

Berdasarkan laporan FAO di tahun 2017 area perkumpulan terbesar plastik di lautan berada di Laut Mediterania, Lautan di sekitar timur dan Asia Tenggara, serta di zona konvergensi Khatulistiwa Atlantik Utara dan Pasifik Utara. Lebih lanjut, terdapat lima area utama ditemukan mikroplastik di perairan; yakni (1) di permukaan laut, (2) kolom air, (3) dasar laut, (4) garis pantai, (5) dalam tubuh biota laut.

Sementara di Indonesia, berdasarkan penelitian Mikroplastik  pada garam dan ikan di Indonesia, tercatat pencemaran paling tinggi mikroplastiknya berada di pesisir Jakarta dan Sulawesi Selatan, yaitu antara 7,5 sampai 10 partikel per meter kubik. Sebanyak 58-89 persen ikan yang diteliti, positif mengandung plastik mikro. Paling tinggi konsentrasinya ditemukan di Makassar dan Bitung.

Penemuan GESAMP (2015; FAO, 2017) juga memperkuat argumen diatas bahwa lebih dari 220 spesies yang ditemukan telah terkontaminasi sampah mikroplastik, 55% diantaranya merupakan hasil laut komersial yang biasanya dikonsumsi lagi oleh manusia–seperti halnya sarden, lobster, kerang, tiram, mackerel, hingga spesies ikan lainnya⁶.

Dikarenakan belum adanya informasi rinci dan komprehensif secara global mengenai jumlah valid dan dampak mikroplastik terhadap sumber daya perikanan tangkap dan budidaya, sehingga belum ada solusi pasti  dalam waktu dekat. Namun, satu hal yang pasti adalah dampak paparan mikro plastik pada produk perikanan budidaya juga akan menimpa manusia, yaitu dari segi risiko kesehatan (lebih lanjut baca disini).

Menyadari alur imbasnya sampah ke seafood yang kita konsumsi, mari kita mulai dari diri sendiri untuk tidak membuang sampah ke laut. Kita juga bisa mulai untuk kurangi plastik sekali pakai. Jika kita bergerak di sektor bisnis perikanan, tanamkan dalam prosesnya untuk tidak membuang plastik di lautan dan gunakan alternatif barang yang tidak tebuat dari plastik. Apapun latar belakangmu, yuk kita dukung laut dan seafood yang bebas mikroplastik!

#WeChooseToSave!

 

Referensi :

* Mikroplastik adalah partikel plastik dengan ukuran kurang dari 5 milimeter, atau sebesar biji wijen, hingga 330 mikron (0,33 mm). Plastik nano ukurannya lebih kecil dari 330 mikron.

FAO. 2017. Microplastics in Fisheries and Aquaculture. Akses http://www.fao.org/3/ca3540en/ca3540en.pdf.

Kathryn Miller, David Santillo dan Paul Johnston. 2016. Plastics in Seafood-Full Technical Review of The Occurrence, Fate, and Effects of Microplastics in Fish and Shellfish. Akses http://www.greenpeace.to/greenpeace/wp-content/uploads/2016/07/plastics-in-seafood-technical-review.pdf.

NatGeo.2018. We Know Plastic Is Harming Marine Life. What About Us? Akses https://www.nationalgeographic.com/magazine/2018/06/plastic-planet-health-pollution-waste-microplastics/

The Telegraph. Agustus 2017.
https://www.telegraph.co.uk/science/2017/08/15/fish-eat-plastic-ocean-smells-like-food-scientists-discover/.

Berita Terakhir