Berita & Publikasi

WWF Indonesia Menyulam 5.000 Mangrove di Dusun Tanroe, Kabupaten Pinrang

Oleh: Idham Malik(Aquaculture Officer, WWF-Indonesia) -  


Penanaman mangrove di Dusun Tanroe, Kabupaten Pinrang / © WWF-ID / Idham Malik
Penanaman mangrove di Dusun Tanroe, Kabupaten Pinrang / © WWF-ID / Idham Malik

Pada 21 November 2020, Tim Akuakultur kembali melakukan penyulaman 5.000 bibit mangrove di kawasan mangrove pesisir Dusun Tanroe, Desa Baba Binanga, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Penyulaman ini dilakukan untuk menggantikan 5.000 bibit mangrove mati yang telah ditanam sebelumnya di tempat yang sama pada 6 September 2020. Bersama 280 pemuda Pinrang dari Mangrove Brotherhood dan dengan bantuan masyarakat setempat, Yayasan WWF Indonesia melalui Seafood Savers menanam 10.000 mangrove. Mangrove Brotherhood sebagai wadah perkumpulan pemuda Pinrang untuk membahas isu-isu lingkungan, khususnya isu pesisir di Kabupaten Pinrang.

Setengah dari bibit yang ditanam tersebut mati karena penanganan bibit yang kurang baik. Bibit yang diperoleh dari warga tersebut terpapar sinar matahari selamadalam beberapa hari sebelum penanaman, sehingga sudah tampak menghitam dan kering. Hal ini menjadi resiko tersendiri, karena memperoleh bibit diperoleh dari nelayan yang belum profesional dalam penyediaanmenyediakan bibit mangrove. Kejadian ini pun menjadi pembelajaran bagi tim mangrove maupun bagi komunitas nelayan agar lebih hati-hati dalam penanganan propagul yang akan dijadikan tanaman mangrove.

Kegiatan ini merupakan penyulaman pertama sejak Yayasan WWF Indonesia terjun untuk penanaman mangrove di Tanroe, Pinrang. Sebab, pada penanaman tahun 2019, yaitu pada 4 Agustus 2019 dengan jumlah sebanyak 3.000 bibit, 1 September 2019 sebanyak 8.000 bibit, dan 23 Desember 2019 sebanyak 1.300 bibit, menunjukkan keberhasilan sebesar 80% hidup. Sehingga, dapat diperkirakan bahwa penyebab kematian 50% pada penanaman 6 September 2020, yaitu adalah faktor bibit yang kurang baik.

Kegiatan ini juga mendorong loyalitas pemuda Pinrang, yang tergabung dalam Mangrove Brotherhood untuk tetap setia berdampingan dengan Yayasan WWF Indonesia dalam melakukan konservasi mangrove di Kabupaten Pinrang. Pada penyulaman mangrove kali ini, Yayasan WWF Indonesia melibatkan relawan yang tergabung dalam Mangrove Brotherhood Pinrang sebanyak 20 orang. Memulai penanaman di Tanroe terbilang sulit, sebab bibit yang didatangkan dari Makassar ketika tiba di Desa Baba Binanga harus diangkut ke lokasi penanaman menggunakan motor melewati pematang tambak. Untuk sementara, bibit mangrove tidak menggunakan propagul setempat, tetapi menggunakan propagul dari kawasan Lakkang, Makassar, sebab untuk saat inikarena musim buah mangrove yang sudah terlewati di kawasan mangrove Tanroe telah melewati musim buah mangrove.

Mangrove Brotherhood sebagai wadah perkumpulan pemuda Pinrang untuk membahas isu-isu lingkungan, khususnya isu pesisir di Kabupaten Pinrang. Setelah penyulaman, Mangrove Brotherhood akan berniat untuk merancang pembibitan dan penanaman mangrove secara mandiri serta melakukan pendataan mangrove di beberapa lokasi lain di Kabupaten Pinrang, seperti Suppa dan Lembang.

Terdapat beberapa daerah yang sebaiknya dilakukan penyulaman mangrove, dalam artian kawasan tersebut berpotensi untuk berkembang menjadi kawasan mangrove yang rimbun. Daerah-daerah potensial tersebut meliputi, tetapi tidak terbatas pada kawasan mangrove Desa Bulu Cindea, Kabupaten Pangkep yang telah ditanami mangrove pada 7 April 2019 sebanyak 2.000 bibit dengan tingkat keberhasilan hidup yaitu 70%. Selain itu, terdapat daerah-daerah lain yang kemungkinan akan dilakukan penyulaman mangrove, yaitu Tekolabbua Pangkep, Puntondo Takalar, Balang Baru Jeneponto, Luppung Bulukumba, dan Lantebung. Kawasan-kawasan tersebut menunjukkan angka daya lulus hidup di atas 50%. Dengan penyulaman di daerah tersebut, tentu akan menambah luasan mangrove Yayasan WWF Indonesia yang tertanam di Sulawesi Selatan. Sehingga, agenda penting konservasi pesisir ke depan tidak lagi mencari lokasi-lokasi baru, tetapi fokus membenahi kawasan-kawasan yang sebelumnya telah ditanami mangrove.

Penyebab kematian mangrove di lokasi-lokasi penanaman mangrove beragam. Di antaranyanya adalah faktor terjangan ombak pada musim ombak, hama, dan kondisi substrat area yang kurang memadai, dan kualitas bibit mangrove yang kurang baik. Daerah yang terkena musim ombak terletak di di pesisir selat Makassar, seperti yang terjadi didaerah Bonto Bahari Maros, Binanga Sangkara Maros, dan sebagian daerah Puntondo Takalar. Sementara itu, daerah-daerah seperti di  Bulu Cindea Pangkep, Balang Baru Jeneponto, dan Luppung Bulukumba terkena hama teritip dan tiram yang merusak batang mangrove. Sedangkan di beberapa lokasi penanaman di Puntondo Takalar, beberapa lokasi penanaman merupakan area substrat berbatu dengan lapisan sedimentasi yang tipis. Untuk area Pinrang, selain karena besarnya hantaman ombak, kematian mangrove juga disebabkan oleh air pasang yang tinggi, plastik yang menempel, serta hama kambing dan sapi.

Beberapa langkah telah dilakukan untuk mencegah kematian mangrove, yakni pembersihan plastik dan rumput laut liar yang menempel di bibit mangrove kawasan Puntondo Takalar, serta dan pembersihan teritip dan tiram yang menempel pada batang mangrove yang ditanam di Luppung Bulukumba. Setelah melakukan pencegahan kematian mangrove, upaya penyulaman mangrove dilakukan untuk mengganti bibit mangrove yang telah mati. Idealnya, penyulaman mangrove ini harus rutin dilakukan agar proporsi mangrove yang hidup tetap stabil. Sebab, jika dibiarkan, mangrove akan mati satu per satu karena mudah terhantam ombak. Penyulaman mangrove berarti menambah daya tahan kumpulan mangrove yang ditanam dari terjangan ombak pada musim-musim ombak.

Berita Terakhir